Berita

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EXPLICIT INSTRUCTION PADA SISWA TUNAGRAHITA KELAS III SEMESTER II SLB AISYIYAH KRIAN SIDOARJO TAHUN PELAJARAN 2020/2021

2024-02-29 12:46:55

Admin

Image

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EXPLICIT INSTRUCTION PADA

SISWA TUNAGRAHITA KELAS III SEMESTER II

SLB AISYIYAH KRIAN SIDOARJO TAHUN

PELAJARAN 2020/2021

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PTK

 

Oleh:

ANWAR KHOLIL


 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI

SURABAYA

2021PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

 

Saya yang bertanda tangan di bawah ini

Nama                              : Anwar Kholil

N I M                              : X. 5117003

Jurusan/Program Studi  : Ilmu Pendidikan / Pendidikan Luar Biasa

 

Menyatakan bahwa skripsi saya berjudul: ”PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EXPLICIT INSTRUCTION PADA SISWA TUNAGRAHITA KELAS III SEMESTER II SLB AISYIYAH KRIAN SIDOARJO TAHUN PELAJARAN 2020/2021” ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasi jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.

 

                                                                                   Surabaya, 14 Desember 2021

                                                                                   Yang membuat pernyataan

 

 

 

                                                                                   Anwar Kholil

 

 

 

 

 

 

 

 

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EXPLICIT INSTRUCTION PADA

SISWA TUNAGRAHITA KELAS III SEMESTER II

SLB AISYIYAH KRIAN SIDOARJO TAHUN

PELAJARAN 2020/2021

 

 

 

 

 

 

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan

mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi

Pendidikan Luar Biasa Jurusan Ilmu Pendidikan

 

 

Oleh :

ANWAR KHOLIL


 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

14 Desember 2021

 

PERSETUJUAN

 

Penilaian Tindak Lanjut ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji PTK Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Negeri Surabaya .

 

 

                                                     

 

     

 

 

 

 

Persetujuan Pembimbing


           Pembimbing I                                           Pembimbing II

 

 

 

 

         Priyono, S.Pd., M.Si.                       Erma Kumalasari, S.Psi., M.Psi.     

  NIP. 19710902 200511 1 001                       NIP. 19841130 201212 2 002

 

 

 

 

PENGESAHAN


Nama             : Anwar Kholil

NIM              : X 5117003

Judul Skripsi : Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Explicit Instruction Pada Siswa Tunagrahita Kelas III Semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo Tahun Pelajaran 2020/2021.

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta pada hari (_________) tanggal (___) 2020 dengan hasil (______). Skripsi telah direvisi dan mendapat persetujuan dari Tim Penguji.

 

Persetujuan hasil revisi oleh Tim Penguji :

                  Nama Penguji                          Tanda Tangan         Tanggal

 

Ketua        : …………………………..          ______________   ____________

Sekretaris  : …………………………..          ______________   ____________

Anggota I  : …………………………..          ______________   ____________

Anggota II : …………………………..          ______________   ____________

 

Mengesahkan

Dekan FKIP                                                               Kepala Program Studi

Universitas Negeri Surabaya                                     Pendidikan Luar Biasa

 

 

 

Dr. Mardiyana, M.Si.                                                 Dr. Subagya, M.Si.

NIP. 19660255 199302 1 002                                    NIP. 19601001 198303 1 012

ABSTRAK

 

Anwar Kholil. Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Explicit Instruction Pada Siswa Tunagrahita Kelas III Semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo Tahun Pelajaran 2019/2020. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya, Desember 2021.

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar matematika melalui model pembelajaran Explicit Instruction pada siswa tunagrahita kelas III Semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo tahun pelajaran 2020/2021.

 Pendekatan penelitian yang yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran matematika. Subjek penelitian ini adalah siswa tunagrahita kelas III semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo tahun pelajaran 2020/2021 yang berjumlah enam siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan tes. Teknik analisis data digunakan analisis deskriptif komparatif, yakni membandingkan prestasi belajar maatematika antar siklus, yang dianalisis adalah prestasi belajar matematika sebelum menggunakan model pembelajaran Explisit Instruction dan prestasi belajar matematika setelah menggunakan model pembelajaran Explicit Instruction  sebanyak dua siklus.

Hasil pengolahan data dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar matematika awal rata-rata kelas 57,50 ketuntasan klasikal mencapai 16,67%, pada siklus I rata-rata kelas 65,83 ketuntasan klasikal mencapai 66,67%. Pada siklus II rata-rata kelas menjadi 72,60 ketuntasan klasikal mencapai 100%.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa menggunakan model pembelajaran Explicit Instruction dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada siswa tunagrahita kelas III Semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo tahun pelajaran 2020/2021.

 

Kata kunci: pretasi belajar matematika, explicit instruction, siswa tunagrahita.

 

 

 

 

 

 


ABSTRACT

 

Anwar Kholil. Improving Mathematics Learning Achievement through Explicit Instruction Learning Model for Class III Semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo Academic Year 2019/2020. Skripsi, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty, Unesa Surabaya, Desember 2021.
	The purpose of this study was to improve mathematics learning achievement through the Explicit Instruction learning model for mentally retarded students in class III Semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo in the 2020/2021 academic year.
	The research approach used is Classroom Action Research (CAR), which is research conducted by teachers in the classroom where they teach with an emphasis on improving or improving the practice and process of learning mathematics. The subjects of this study were six students with mental retardation class III semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo in the academic year 2020/2021. Data collection techniques using documentation and tests. The data analysis technique used comparative descriptive analysis, namely comparing mathematics learning achievement between cycles, which analyzed mathematics learning achievement before using the explicit instruction learning model and mathematics learning achievement after using two cycles of the Explicit Instruction learning model.
	The results of data processing can be explained that the initial mathematics learning achievement class average of 57.50 classical completeness reaches 16.67%, in the first cycle the class average of 65.83 classical completeness reaches 66.67%. In the second cycle the class average was 72.60, classical completeness reached 100%.
	Based on the results of the study, it is known that using the Explicit Instruction learning model can improve mathematics learning achievement in mentally retarded class III Semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo students in the 2019/2020 academic year.
 
Keywords: mathematics learning achievement, explicit instruction, mentally retarded students.
	 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

MOTTO




“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”.

 (Terjemah Q.S. Al-Insyirah: 5)


"Berpikirlah positif, tidak peduli seberapa keras kehidupanmu."

(Ali bin Abi Thalib)
















 

 

 

 

PERSEMBAHAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Skripsi ini kuperuntukkan kepada:

-    Bapak dan Ibu tercinta.

-    Istri dan anak-anak tersayang.

-    Rekan-rekan PLB FKIP UNS.

-    Murid-murid yang kubanggakan.

-    Almamater.


 

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT., yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan penelitian tindakan kelas ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi. Untuk itu, atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1.     Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.

2.     Drs. Hermawan, M.Si,, Ketua Program Studi Pendidikan Luar Biasa yang telah memberikan ijin penyusunan skripsi.

3.     Priyono, S.Pd.,M.Si., pembimbing I yang telah memberikan petunjuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

4.     Erma Kumala Sari, S.Psi.,M.Psi., pembimbing II dengan sabar telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

5.     Kepala SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo yang telah memberikan ijin tempat penelitian dan informasi yang dibutuhkan penulis.

6.     Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan yang ada dan tentu hasilnya juga masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi penyempurnaan selanjutnya.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan menjadi bahan masukan bagi dunia pendidikan.


Surakarta,  14 Desember 2020

 

         Penulis

 



 

 

                                                        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ......................................................................................         i

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ......................................................        ii

HALAMAN PENGAJUAN .................................................................................  iii

HALAMAN PERSETUJUAN .......................................................................       iv

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ v

HALAMAN ABSTRAK ....................................................................................... vi

HALAMAN ABSTRACT .................................................................................... vii

HALAMAN MOTTO .......................................................................................... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ ix

KATA PENGANTAR ............................................................................................ x

DAFTAR ISI ...................................................................................................       xi

DAFTAR TABEL ............................................................................................... xiii

DAFTAR GAMBAR........................................................................................... xiv

DAFTAR GRAFIK .............................................................................................. xv

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xvi

BAB I.    PENDAHULUAN ..........................................................................        1

A.   Latar Belakang Masalah ...........................................................        1

B.    Identifikasi Masalah...................................................................      4

C.    Pembatasan Masalah..................................................................      5

D.   Perumusan Masalah ..................................................................        5

E.    Tujuan Penelitian ......................................................................        6

F.     Manfaat Penelitian ....................................................................        6

BAB II.  LANDASAN TEORI .....................................................................        7

A.   Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan.......................       7

1.     Tuna Grahita........................................................................       7

2.     Prestasi Belajar.....................................................................     19

3.     Matematika..........................................................................     22

4.     Model Pembelajaran Explicit Instruction.............................     26

Halaman

B.    Penelitian-penelitian yang Relevan...........................................     31

C.    Kerangka Berfikir......................................................................     33

D.   Hipotesis Tindakan....................................................................     34

BAB III. METODE PENELITIAN................................................................     35

A.   Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................      35

B.    Desain Penelitian........................................................................     36

C.    Subjek Penelitian.......................................................................     37    

D.   Data dan Sumber Data...............................................................     38

E.    Pengumpulan Data ....................................................................      38

F.     Uji Validitas dan Reliabilitas ....................................................      41

G.   Analisis Data..............................................................................     43

H.   Prosedur Penelitian....................................................................     44

I.       Indikator Keberhasilan Tindakan Kelas ...................................      49

BAB IV  HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN.................................     50

A. Deskripsi Pratindakan ...............................................................      50

B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus........................................     52

C. Perbandingan Hasil Tindakan Antar Siklus...............................     64

D. Pembahasan Hasil Penelitian ....................................................      65

BAB V   SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN.....................................     67

A. Simpulan ....................................................................................      67

B. Implikasi......................................................................................     67

C. Saran ...........................................................................................      67

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................      70

LAMPIRAN-LAMPIRAN..............................................................................     73

 

 

 

 

 

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Tahapan-Tahapan Model Pembelajaran Explicit Instruction.................. 28

Tabel 3.1. Jadwal Kegiatan Penelitian .................................................................... 35

Tabel 3.2. Daftar Siswa Tunagrahita Kelas III Semester II SLB Aisyiyah

                 Krian Sidoarjo Tahun 2019/2020 sebagai Subjek Penelitian................. 38

Tabel 3.3. Kisi-Kisi Soal  Tes  Matematika  Siswa  Kelas  III Tunagrahita

                 SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo................................................................. 41

Tabel 3.4. Prosedur Penelitian ................................................................................ 45

Tabel 3.5. Indikator Kinerja Penelitian.................................................................... 44

Tabel 4.1. Prestasi Belajar Matematika Materi Operasi Hitung Bilangan

                 Bulat Siswa Tunagrahita Kelas III Semester II SLB Aisyiyah

                 Krian Sidoarjo pada Kondisi Awal......................................................... 50

Tabel 4.2. Prestasi Belajar Matematika Materi Operasi Hitung Bulangan

                 Bulat Siswa  Kelas III Tunagrahita  SLB Aisyiyah Krian

                 Sidoarjo pada Siklus I ............................................................................ 55

Tabel 4.3. Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Materi Operasi Hitung

                 Bilangan Bulat Melalui Model Pembelajaran Explicit Instruction

                 pada Siklus I........................................................................................... 57

Tabel 4.4. Prestasi Belajar Matematika Materi Operasi Hitung Bulangan

                 Bulat Siswa Kelas III Tunagrahita SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo

                 pada Siklus II.......................................................................................... 61

Tabel 4.5. Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Materi Operasi Hitung

                 Bilangan Bulat Melalui Model Pembelajaran Explicit Instruction

                 pada Siklus II.......................................................................................... 63

Tabel 4.6. Perbandingan Prestasi Belajar Matematika Materi Operasi Hitung

                 Bilangan Bulat Setiap Siklus Melalui Model Pembelajaran

                 Explicit Instruction.................................................................................. 64

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. Kurve Klasifikasi Anak Tunagrahita..........................................      9

Gambar 2.2. Kerangka Berpikir......................................................................     34

Gambar 3.1. Alur Penelitia Tindakan Kelas...................................................    37




 

 

 

                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GRAFIK

Halaman

Grafik 4.1. Prestasi Belajar Matematika Kondisi Awal....................................... 51

Grafik 4.2. Prestasi Belajar Matematika Siklus I................................................. 55

Grafik 4.3. Prestasi Belajar Matematika Siklus II................................................ 61

Grafik 4.4. Perbandingan Antara Rata-rata Prestasi Belajar matematika

                  Materi Operasi Hitung Bilangan Bulat Setiap Siklus......................... 64

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1.  Silabus............................................................................................... 73

Lampiran 2.  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ..................................... 76

Lampiran 3.  Kisi-kisi Soal Tes Matematika Siswa Kelas III/C SLB

                     Aisyiyah Krian Sidoarjo Tahun Ajaran 2019/2020.......................... 81

Lampiran 4.  Soal Tes Matematika Siswa Kelas III/C SLB Aisyiyah Krian

                     Sidoarjo Tahun Ajaran 2019/2020 Siklus I ..................................... 82

Lampiran 5.  Kunci Jawaban dan Pedoman Penilaian Siklus I ............................. 83

Lampiran 6.  Soal Tes Matematika Siswa Kelas III/C SLB Aisyiyah Krian

                     Sidoarjo Tahun Ajaran 2019/2020 Siklus II..................................... 84

Lampiran 7.  Kunci Jawaban dan Pedoman Penilaian Siklus II ............................ 85

Lampiran 8.  Prestasi  Belajar  Matematika  Siswa  Tunagrahita  Kelas III

                     SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo (Kemampuan Awal)......................... 86

Lampiran 9.  Prestasi  Belajar  Matematika  Siswa  Tunagrahita  Kelas III

                     SLB Aisyiyah Krian Sidoharjo (Siklus I)......................................... 87

Lampiran 10. Prestasi  Belajar  Matematika  Siswa  Tunagrahita  Kelas III

                     SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo (Siklus II).......................................... 88

Lampiran 11. Rekapitulasi Prestasi Belajar Matematika Siswa Tunagrahita

                     Kelas III SLB Aisyiyah Krian sidoarjo............................................. 89

Lampiran 12. Lembar Pengamatan Penilaian Hasil Belajar Siklus I....................... 90

Lampiran 13. Lembar Pengamatan Penilaian Hasil Belajar Siklus II..................... 93

Lampiran 14. Foto-foto Kegiatan Penelitian .......................................................... 96

Lampiran 15. Perijinan Penelitian .......................................................................... 98

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah hak semua warga negara. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan tidak memandang umur, kekayaan, keterbatasan fisik, mental, psikologi dan lain sebagainya. Pendidikan yang diberikan kepada warga negara yang mempunyai keterbatasan atau mempunyai kelebihan yaitu berupa pendidikan khusus. Pendidikan khusus adalah pendidikan yang dirancang dengan menyesuaikan beragam kebutuhan siswa yang unik. Sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 5 (1) yang berbunyi: “Warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus” dan Pasal 5 (2) “Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus”.

Mewujudkan tujuan pendidikan bangsa Indonesia, diperlukan kerjasama yang baik antara pendidik dan siswa. Keberhasilan dalam pendidikan, banyak tergantung pada proses belajar siswa pada saat mengikuti proses kegiatan pembelajaran. Keberhasilan yang didapat siswa dalam pembelajaran dapat dilihat dari hasil prestasi siswa yang diperoleh dari hasil evaluasi yang diberikan, di mana antara siswa yang satu dengan yang lain tidak sama. Tingkat penguasaan materi siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari faktor sosial maupun individu diantaranya faktor kecerdasan atau intelegensi. Selain itu, minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran juga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

1

Keberhasilan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti menguasi model-model pembelajaran, media pembelajaran. Di sekolah, guru kelas mengajar semua mapel, sedangkan guru mapel mengajarkan satu bidang studi. Dalam hal ini peneliti sebagai guru kelas tugas mengajar semua mapel sesuai kurikulum. Salah satu mapel yang diberikan guru adalah matematika, materi tersebut juga diberikan di SLB. Guru dalam melaksanakan pembelajaran matematika yang kurang maksimal, menimbulkan asumsi dan pandangan umum terhadap rendahnya prestasi belajar matematika pada diri siswa, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Mata pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang yang dianggap sulit. Membandingkan kedua fakta tersebut yaitu kurangnya guru merencanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan nyata dan masih kurang memadainya bekal kemampuan materi matematika, maka perlu segera diatasi sedini mungkin. Sebab penguasaan pada mata pelajaran matematika adalah hal yang sangat penting, karena bagaimanapun juga dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dipisahkan dari unsur-unsur matematika.

Dengan karakteristik anak yang berkebutuhan khusus, para pendidik harus lebih mampu untuk mengimplementasikan psikologi kedalam kegiatan pembelajaran khususnya terhadap anak tunagrahita. Apalagi kaitannya dalam pembelajaran matematika, betapa sulit dan susahnya mereka menerima dan menangkap pelajaran tanpa seorang guru mampu memahami kondisi dan situasi si anak secara baik dan bijaksana tanpa harus memvonis bahwa mereka sudah tidak bisa dan tidak perlu belajar matematika, tetapi sebaliknya guru harus mampu membangun suasana yang menyenangkan (I Ketua Yarta, 2011:3).

 

Siswa yang duduk di SLB merupakan siswa yang berkebutuhan khusus, sehingga penanganannyapun perlu dilakukan secara khusus. Guru di SLB tidak dapat menyampaikan materi pembelajaran matematika dengan menyamakan dengan siswa-siswa lain yang duduk di sekolah dasar secara umum, sebab siswa di SLB, seperti halnya siswa berkebutuhan khusus tunagrahita memiliki keterbatasan intelegensi yang menyebabkan keterbatasan dalam kapasitas belajarnya, terutama yang sifatnya abstrak, seperti: menulis, berhitung, dan membaca (Somantri, 2008:106).

Matematika merupakan sesuatu substansi yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari seperti di rumah, di pekerjaan dan di masyarakat akan selalu menggunakan matematika, misalnya dalam menghitung bilangan akan melibatkan konsep dan keterampilan matematika. Untuk itu keterampilan penggunaan konsep matematika harus dibelajarkan kepada setiap siswa, begitu juga siswa yang memiliki hambatan khusus seperti anak tunagrahita. Pembelajaran matematika diarahkan bagi mereka agar mampu menggunakan di dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil catatan tes harian siswa kelas III SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo menunjukkan, bahwa prestasi belajar matematika siswa materi pokok Operasi Hitung bilangan bulat, menunjukkan tingkat penguasaan materi masih kurang, dari 6 siswa, nilai tertinggi 65 dan terendah 40 dengan rata-rata adalah 50 (Dokumentasi Guru, 2020). Kondisi tersebut terjadi karena proses pembelajaran yang dilakukan guru cenderung menggunakan metode ekspositoris. Metode ekspositoris merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach) (Sanjaya, 2008:179). Dikatakan demikian, sebab guru memegang peran yang sangat dominan. Melalui metode ini guru menyampaikan materi pembelajaran secara terstruktur dengan harapan materi pelajaran yang disampaikan itu dapat dikuasai siswa dengan baik. Fokus utama metode ini adalah kemampuan akademik siswa (academic achievement student).

Rendahnya tingkat berpikir siswa tunagrahita menjadi sebuah tantangan besar bagi para pendidik. Siswa tunagrahita kelas III mengalami kesulitan dalam mengenal lambang bilangan dan penjumlahan 1 sampai 20, disebabkan karena metode dalam mengajar yang digunakan tidak sesuai dengan kondisi siswa, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep angka, untuk membantu mempelajari materi tentang mengenal lambang bilangan dan penjumlahan tersebut diperlukan model pembelajaran yang dapat memperjelas materi pelajaran serta dapat menunjang kegiatan belajar anak. Oleh karena itu, peran model pembelajaran sangat penting keberadaannya bagi anak tunagrahita dan guru dituntut harus merancang dan melaksanakan program pengalaman belajar dengan tepat agar siswa tunagrahita memperoleh pengetahuan secara utuh sehingga pembelajaran lebih bermakna. Bermakna disini berarti bahwa siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata.

Melihat fakta tersebut, maka perlu adanya upaya penerapan model pembelajaran lain yang mampu memberikan perhatian secara individual terhadap siswa. Dalam hal ini peneliti berkeinginan menerapkan model pembelajaran yaitu mdel pembelajaran Explicit Instruction. Model pembelajaran Explicit Instruction adalah salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar siswa yang berkaitan dengan pengetahuan deklaratif (menjelaskan) dan pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik, yang dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah (Arends, 1997 dalam Suprihatiningrum, 2013:229).

Model pembelajaran Explicit Instruction lebih menekankan pada keterampilan, proses dan sistem dibandingkan pemenuhan isi dan tes. Melalui penerapan model pembelajaran Explicit Instruction, siswa dituntut untuk bisa aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Melalui penerapan model pembelajaran Explicit Instruction diharapkan akan mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan memungkinkan terjadinya peningkatan perhatian, kesiapsediaan, keterlibatan serta partisipasi anak dalam belajar yang akan menjembatani tercapainya tujuan penelitian yaitu meningkatnya prestasi belajar anak dalam mengenal lambang bilangan dan penjumlahan 1 sampai 20.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul: “PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN EXPLICIT INSTRUCTION PADA SISWA TUNAGRAHITA KELAS III SEMESTER II SLB AISYIYAH KRIAN SIDOARJO TAHUN PELAJARAN 2019/2020”.

B.      Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah penelitian berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka peneliti mengidentifikasi beberapa masalah:

1.     Anak tunagrahita memiliki keterbatasan intelegensi yang menyebabkan keterbatasan dalam kapasitas belajarnya, terutama yang sifatnya abstrak, seperti: menulis, berhitung, dan membaca.

2.     Prestasi belajar matematika merupakan salah satu aspek yang harus dikuasai oleh siswa tunagrahita agar mampu mempermudah proses berhitung dalam pembelajaran.

3.     Kelas III SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo mengalami hambatan dalam berhitung sehingga dibutuhkan model pembelajaran yang menyenangkan salah satunya model pembelajaran Explicit Instruction untuk meningkatkan prestasi belajar matematika.

4.     Pembelajaran matematika harus diajarkan, dilatih, dan dikembangkan bagi anak kelas III tunagrahita.

 

C.     Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini fokus permasalahan yang akan diteliti yaitu:

1.  Tempat penelitian di SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo.                   

2.  Subjek penelitian adalah anak tunagrahita kelas III semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo tahun pelajaran 2019/2020.

3.  Prestasi belajar matematika materi operasi hitung bilangan bulat 1-20 disesuaikan dengan kesulitan yang dihadapi anak kelas III semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo.

4.  Meningkatkan prestasi belajar matematika materi operasi hitung bilangan bulat 1-20 dengan model pembelajaran Explicit Instruction.

 

D.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Apakah model pembelajaran Explicit Instruction dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada siswa tunagrahita Kelas III Semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo tahun pelajaran 2019/2020?”.

E.      Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah: “Untuk meningkatkan prestsi belajar matematika melalui model pembelajaran Explicit Instruction pada siswa tunagrahita kelas III Semester II SLB Aisyiyah Krian Sidoarjo tahun pelajaran 2019/2020”.

 

F.      Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

1.       Bagi Siswa

a.      Membantu siswa belajar sesuai karakteristik dan kemampuan.

b.     Memberi pengalaman belajar bagi siswa melalui model pembelajaran Explicit Instruction.

2.       Bagi Guru

Memberikan pengalaman mengajar matematika melalui model pembelajaran Explicit Instruction.

 

 

 

 

 

 










BAB IILANDASAN TEORI

 

A.   Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan

1.   Tunagrahita

a.   Definisi Tunagrahita

Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Kepustakaan asing digunakan istilah-istilah mental retardation, mentally retarded, mentak deficiency, mental defective, dan lain-lain (Soemantri, 2008:83).

The American Psychological Association memberikan definisi tunagrahita sebagai berikut:

Mental Retardation (MR) is a generalized disorder appearing before 18 years particularly in early years of school life of the individual and it characterized by significantly impaired cognitive functioning and deficits in two or more adaptive behaviours. (Retardasi mental adalah gangguan umum yang muncul sebelum 18 tahun terutama di tahun-tahun awal kehidupan sekolah individu dan ditandai dengan gangguan signifikan fungsi kognitif dan defisit dalam dua atau lebih perilaku adaptif). (Onyekuru and Njoku, 2012: 2).

 

Menurut The American Association on Mental Deficiency (AAMD) dalam Efendi (2006:88), seseorang dikategorikan tunagrahita apabila kecerdasannya secara umum di bawah rata-rata dan mengalami kesulitan penyesuaian sosial dalam setiap fase perkembangannya. Sementara menurut Nur’aeni (2004:105), tunagrahita adalah mereka yang memiliki kemampuan intelektual dibawah rata-rata teman seusianya.

Pengertian tunagrahita menurut DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) yang dikutip Rahayu (2012:1) sebagai berikut:

7

Merupakan gangguan yang terdapat pada fungsi intelektual, dimana IQ kira-kira 70 atau lebih rendah, bermula sebelum usia 18 tahun dan disertai kerusakan pada fungsi adaptif. Hal -hal yang termasuk di dalam fungsi adaptif adalah komunikasi, merawat diri, kehidupan sehari-hari, ketrampilan interpersonal, menggunakan sumber komunikasi, pengaturan diri, ketrampilan akademis, bekerja, penggunaan waktu luang, kesehatan dan keamanan. Istilah mengenai anak tunagrahita, yaitu terbelakang mental, tuna mental, lemah otak, lemah pikiran, dan mentaly retarded. Smith, Ittenbach, dan Patton (2002: 43) mengemukakan bahwa:

People who are mentally retarded overtime have been referred to as dumb, stupid, immature defective, deficient, subnormal, incompetent, and dull. Terms such as idiot, imbecile, moron and feebleminded were commonly used historically to label this population. Although the word faal referred to those who lwere mentally ill, and the word idiot was directed toward individuals who were severely retarded, these terms were frequently used interchangeably.

Maksud dari kutipan di atas adalah retardasi mental dengan istilah dungu (dumb), bodoh (stupid), tidak masuk (immature), cacat (defective), kurang sempurna (deficient), di bawah normal (subnormal), tidak mampu (incompetent), dan tumpul (dull). Istilah lainnya idiot, imbecile, moron, dan feebleminded, mengarah individu yang cacat berat, istilah-istilah tersebut sering digunakan secara bergantian.

Berdasarkan definisi-definisi yang disebutkan di atas, maka yang dimaksud dengan tunagrahita adalah anak yang mengalami kemampuan intelektual di bawah anak-anak seusianya yang mengakibatkan anak tersebut mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi, sosial, sehingga memerlukan pelayanan khusus.

b.   Klasifikasi Anak Tunagrahita

Klasifikasi diperlukan untuk memudahkan pemberian bantuan atau pelayanan kepada anak tunagrahita. Dalam pengklasifikasian ini terdapat berbagai cara sesuai dengan sudut pandang disiplin ilmu dan ahli yang mengemukakannya. Yusak (2003: 61) mengklasifikasikan anak tunagrahita berdasarkan IQ (tingkat kecerdasan) sebagai berikut:

Idiot yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal berusia 2 tahun. IQ nya antara 0–19. Imbisil kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal yang berusia 7 tahun, minimal sama dengan anak normal usia 3 tahun, IQ nya 20–49. Debil yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal berusia 10 tahun, minimal 7 tahun,  IQ nya 50 – 69. Slow learners yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal. IQ nya 78 – 89.”

Santoso (2010: 130) mengklasifikasikan anak tunagrahita yaitu: “Klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan IQ (intelligent quotient). Tunagrahita ringan (IQ = 51-70), tunagrahita sedang (IQ = 36-50), tunagrahita berat (IQ = 20-35), dan tunagrahita sangat berat (IQ di bawah 20).”

Klasifikasi anak tunagrahita dapat digambarkan dalam bentuk kurve sebagai berikut:

Gambar 2.1.

Kurve Klasifikasi Anak Tunagrahita

Keterangan:

·      Under 70 [mentally retarded] -- 2.2%

·      70-80 [borderline retarded] -- 6.7%

·      80-90 [low average] -- 16.1%

·      90-110 [average] -- 50%

·      110-120 [high average] -- 16.1%

·      120-130 [superior] -- 6.7%

·      Over 130 [very superior] -- 2.2%

(George Boeree, 2010: 13).

Pengelompokan anak tunagrahita pada umumnya didasarkan pada taraf intelegensinya, yang terdiri dari keterbelakangan ringan, sedang, dan berat. Klasifikasi anak Tunagrahita menurut Suparlan yang dikutip Soemantri (2008:86), yaitu sebagai berikut:

1)  Tunagrahita Ringan

Tunagrahita ringan disebut juga moron atau debil. Mereka memiliki IQ antara 68-52 menurut Binet, sedangkan menurut skala Weschler (WISC) memiliki IQ 69 – 55) Mereka masih dapat balajar membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Dengan bimbingan dan pendidikan yang baik, anak terbelakang mental ringan pada saatnya akan dapat memperoleh penghasilan untuk dirinya sendiri.

Anak terbelakang mental ringan dapat dididik menjadi tenaga kerja semi-skilled seperti pekerjaan laundry, pertanian, peternakan, pekerjaan rumah tangga, bahkan jika dilatih dan dibimbing dengan baik anak tunagrahita ringan dapat bekerja di pabrik-pabrik dengan sedikit pengawasan.

2)  Tunagrahita Sedang

Anak tunagrahita sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ 51-36 pada Skala Binet, dan 54-40 menurut Skala Weschler (WISC). Anak terbelakang mental sedang bisa mencapai perkembangan MA sampai kurang lebih 7 tahun. Mereka dapat dididik mengurus diri sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya seperti menghindari kebakaran, berjalan di jalan raya, berlindung dari hujan, dan sebagainya.

Anak tunagrahita sedang sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis, membaca, dan berhitung walaupun mereka masih dapat menulis secara sosial, misalnya menulis namanya sendiri, alamat rumahnya, dan lain-lain. Masih dapat dididik mengurus diri, seperti mandi, berpakaian, makan, minum, mengerjakan pekerjaan rumah tangga sederhana seperti menyapu, membersihkan perabot rumah tangga, dan sebagainya.

3)  Tunagrahita Berat dan Sangat Berat

Kelompok anak tunagrahita berat sering disebut idiot. Kelompok ini dapat dibedakan lagi antara anak tunagrahita berat dan sangat berat. Tunagrahita berat (severe) memiliki IQ antara 32-20 menurut Skala binet dan antara 39-25 menurut Skala Weschler (WISC).

4)  Tunagrahita Sangat Berat

Tunagrahita sangat berat (profound) memiliki IQ di bawah 19 menurut Skala binet dan IQ di bawah 24 menurut Skala Weschler (WISC).

Menurut The American Association on Mental Deficiency (AAMD) seperti yang dikutip oleh Alimin (2008:45), anak tunagarhita dapat diklasifikasikan menurut tingkat kemampuan kecerdasan dan dapat dilihat pula berdasarkan kemampuan perilaku adaptif. Berdasarkan kemampuan kecerdasan, seseorang anak dikatagorikan sebagai tunagrahita apabila kemampuan kecerdasannya menyimpang 2-3 standar deviasi dari kemampuan kecerdasan rata-rata.

Patokan standar deviasi di atas selanjutnya digunakan oleh AAMD dalam mengembangkan sistem pengelompokkan anak tunagrahita berdasarkan tingkat perkembangan fungsi intelektual, yang selanjutnya disebut Intelligence Quotient (IQ). Individu yang memiliki IQ antara 2-3 standar deviasi di bawah rata-rata, dikatagorikan sebagai anak tunagrahita ringan. Individu yang memiliki IQ antara 3-4 standar deviasi di bawah rata-rata dikatagorikan sebagai anak tunagrahita sedang. Individu yang memiliki IQ antara 4-6 standar deviasi di bawah rata-rata dikatagorikan sebagai anak tunagrahita berat, dan individu yang mempunyai IQ lebih dari 6 standar deviasi dikatagorikan sebagai anak tunagrahita sangat berat.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa klasifikasi anak tunagrahita adalah IQ nya antara 0-19, kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal yang berusia 2-3 tahun, IQ antara 20-49. Debil yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal berusia 7-10 tahun, IQ antara 50-69. Slow learners yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal. IQ antara 78-89 tak lebih dari kecerdasan anak normal usia 16 tahun. Tarap perbatasan atau lambat belajar mempunyai IQ = 51-70 untuk tunagrahita ringan, IQ = 36-50 untuk tunagrahita sedang, IQ = 20-35 untuk tunagrahita berat, dan IQ di bawah 20 untuk tunagrahita sangat berat.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka pada dasarnya para ahli sepakat bahwa anak tunagrahita diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok, yaitu: ringan, sedang, berat, dan sangat berat.

Berdasarkan klasifikasi dari beberapa ahli tersebut penulis akan meneliti siswa penyandang tunagrahita, yang tergolong mampu didik yang mempunyai IQ antara 36-70. "Anak tunagrahita mampu didik (debil) adalah anak tunagrahita yang tidak mampu mengikuti pada program sekolah biasa, tetapi ia masih memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pendidikan walaupun hasilnya tidak maksimal" (Efendi, 2006: 90).

c.   Karakteristik Anak Tunagrahita

Tunagrahita atau terbelakang mental merupakan kondisi dimana perkembangan kecerdasannya mengalami hambatan sehingga tidak mencapai tahap perkembangan yang optimal. Karakteristik anak tunagrahita menurut Somantri (2008:84) adalah:

1)  Keterbatasan Inteligensi

Inteligensi merupakan kemampuan untuk mempelajari informasi dan ketrampilan-ketrampilan menyesuaikan diri dengan masalah-masalah dan situasi-situasi kehidupan baru, belajar dari pengalaman masa lalu, berfikir abstrak, kreatif, dapat menilai secara kritis, menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi kesulitan-kesulitan, dan kemampuan untuk merencanakan masa depan. Anak tunagrahita memiliki kekurangan dalam hal tersebut. Kapasitas belajar anak tunagrahita terutama yang bersifat abstrak seperti menulis, berhitung, dan membaca juga sangat terbatas.

2)  Keterbatasan Sosial

Disamping memiliki keterbatasan inteligensi, anak tunagrahita juga memiliki kesulitan dalam mengurus diri sendiri dan bergaul di masyarakat. Oleh karena itu mereka memerlukan bantuan dari orang lain untuk membantu mereka berinteraksi dengan lingkungan.

Anak tunagrahita cenderung berteman dengan anak yang lebih muda usianya, ketergantungan terhadap orang tua sangat besar, tidak mampu memikul tanggung jawab sosial dengan bijaksana, sehingga mereka harus selalu dibimbing dan diawasi. Mereka juga mudah dipengaruhi dan cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.

3)  Keterbatasan Fungsi Mental

Anak tunagrahita memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan reaksi pada situasi yang baru dikenalnya. Mereka memperlihatkan reaksi terbaiknya bila mengikuti hal-hal yang rutin dan secara konsisten dialaminya dari hari ke hari. Anak tunagrahita tidak dapat menghadapi suatu kegiatan atau tugas dalam jangka waktu yang lama.

Anak tunagrahita juga memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa. Mereka bukannya mengalami kerusakan artikulasi, akan tetapi pusat pengolahan (perbendaharaan kata) yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Karena alasan itu mereka membutuhkan kata-kata konkret yang sering didengarnya. Persamaan dan perbedaan harus ditujukan secara berulang-ulang. Latihan-latihan sederhana seperti mengajarkan konsep besar dan kecil, keras dan lemah, perlu menggunakan pendekatan yang konkrit. Selain itu mereka juga kurang mampu untuk mempertimbangkan sesuatu, membedakan yang baik dan yang buruk.

Berdasarkan karakteristik di atas dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita memiliki keterbatasan inteligensi, memiliki kekurangan dalam hal belajar, penyesuaian diri, dan kemampuan merencanakan masa depan, keterbatasan sosial yaitu memiliki kesulitan dalam mengurus diri sendiri dan bergaul di masyarakat, keterbatasan fungsi mental, tidak dapat menghadapi suatu kegiatan atau tugas dalam jangka waktu yang lama. Anak tunagrahita juga memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa.

d.   Faktor Penyebab Tunagrahita

Faktor penyebab tunagrahita dilihat dari sisi pertumbuhan dan perkembangan, penyebab ketunagrahitaan menurut Devenport dalam Nur’aeni (2004:108), dapat dirinci sebagai berikut:

                                           1)   Kelainan atau ketunaan yang timbul pada benih plasma.

                                           2)   Kelainan atau ketunaan yang dihasilkan selama penyuburan plasma.

                                           3)   Dikaitkan dengan implantasi

                                           4)   Timbul dalam embrio

                                           5)   Timbul dari luka saat kelahiran

                                           6)   Timbul dalam janin.

Menurut Efendi (2006: 91), bahwa "sebab terjadinya ketunagrahitaan pada seseorang menurut kurun waktu terjadinya, yaitu dibawa sejak lahir (faktor endogen) dan faktor dari luar seperti penyakit atau keadaan lainnya (faktor eksogen)." Faktor endogen yaitu faktor ketidaksempuraan psikobiologis dalam memindahkan gen, sedangkan faktor eksogen yaitu faktor yang terjadi akibat perubahan patologis dari perkembangan normal. Sisi pertumbuhan dan perkembangan, penyebab ketunagrahitaan menurut Devenport yang dikutip Efendi (2006: 91) dapat dirinci melalui jenjang sebagai berikut:

1) kelainan atau keturunan yang timbul pada benih plasma;

2) kelainan atau keturunan yang dihasilkan selama penyuburan telur;

3) kelainan atau keturunan yang diakibatkan dengan implantasi;

4) kelainan atau keturunan yang timbul dalam embrio;

5) kelainan atau keturunan yang timbul dari luka saat kelaihiran;

6) kelainan atau keturunan yang timbul dalam janin;

7) kelainan atau keturunan yang timbul pada masa bayi dan masa kanak-kanak.

 

Tunagrahita dapat disebabkan oleh beberapa faktor (Dirjen PLB UPI, 2006: 5), sebagai berikut:

1)  Genetik

a)   Kerusakan atau kelainan biokimiawi

b)  Abnormalitas kromosomal

c)   Anak tunagrahita yang lahir disebabkan oleh faktor ini pada umumnyaa dalah sindroma down atau sindroma mongo dengan IQ antar 20 – 60 dan rata-rata memiliki IQ 30 – 50

2)  Pada masa sebelum kelahiran

a)   Infeksi rubela

b)  Faktor resus

3)  Pada saat kelahiran

Retardasi mental atau tunagrahita yang disebabkan oleh kejadian yang terjadi pada saat kelahiran adalah luka-luka pada saat kelahiran, sesak napas, dan lahir prematur

4)  Pada saat setelah lahir

Penyakit-penyakit akibat infeksi misalnya: meningitis (peradangan dalam selaput otak dan problema nurisi yaitu kekurangan gizi misanya: kekurangan protein yang didierita bati dan awal masa kanak-kanak dapat menyebabkan tunagrahita

5)  Faktor sosio kultural

Sosio kultural atau sosial budaya lingkungan dapat mem-pengaruhi perkembangan intelektual manusia

6)  Gangguan metabolisme atau nutrisi

a)   Pheniketanuria gangguan pada metabolisme asam amino, yaitu gangguan pada enzim peniketo nuria.

b)  Gargoylisme. Gangguan metabolosme saccharide dalam hati, limpa kecil, dan otak

c)   Cretinisme. Gangguan pada hormon tiroid yang dikenal karena defisiensi yodium.

 

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebab-sebab anak tunagrahita adalah: pada masa prenatal kekurangan vitamin, gangguan psikologis sang ibu, gangguan kelainan janin; pada masa natal proses kelahiran tidak sempurna, masa pos natal, anak tunagrahi

Lokasi Sekolah

Alamat

Jl. R. Subakir Semaji RT 12 RW 4 Kabupaten Sidoarjo

Email

aisyiyahkrianslb@gmail.com

Nomor Telepon

0318989482

Managed By ABK Istimewa 2022.