Berita

Implementasi Pendekatan Permainan Tradisional Dalam meningkatkan Hasil Belajar Gerak Dasar Lari Siswa Kelas VIII Tunagrahita Ringan Di SLB Aisyiyah Krian

2024-02-29 12:38:46

Admin

Image

PENELITIHAN TINDAKAN KELAS

 

Implementasi Pendekatan Permainan Tradisional Dalam meningkatkan Hasil Belajar Gerak Dasar Lari Siswa Kelas VIII Tunagrahita Ringan Di SLB Aisyiyah Krian

 


  

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Disusun

oleh

LIA ANI SUCININGSIH, S.Pd

 

 

 

 

SLB AISYIYAH KRIAN

PROVINSI JAWA TIMUR

2022

 

 

 

 

 

ABSTRAK

 

Implementasi Pendekatan Permainan Tradisional Dalam meningkatkan Hasil Belajar Gerak Dasar Lari Siswa Kelas VIII Tunagrahita Ringan Di SLB Aisyiyah Krian  Tahun Pelajaran 2021-2022.

 

 

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui permainan tradisional pada mata pelajaran Penjas materi gerak dasar lari kelas VIII Tunagrahita Ringan di SLB Aisyiyah Krian. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam dua siklus karena telah mencapai indikator keberhasilan tindakan. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII Tunagrahita Ringan Tahun Pelajaran 2021/2022 yang berjumlah 8 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lembar observasi keaktifan belajar siswa dan test untuk mengetahui hasil belajar siswa. Penghentian siklus berdasarkan indikator keberhasilan siswa mencapai Ketuntasan 70%. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa implementasi pendekatan permainan tradisional dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada kompetensi mempraktekkan gerak dasar lari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas positif sebesar 12% dari siklus I ke siklus II. Aktivitas positif pada siklus I sebesar 66% sedangkan pada siklus II sebesar 78%. Dari hasil tes yang telah dilaksanakan pada siklus I dan siklus II terjadi peningkatan hasil belajar gerak dasar lari siswa melalui permainan tradisional. Peningkatan tersebut sebesar 7,5% pada siklus I dari kondisi awal yaitu 55% dimana hasil belajar pada siklus I sebesar 62,5%. Pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 37,5% dibanding siklus I dimana hasil belajar siklus II sebesar 100%.

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Gerak dasar lari, Permainan Tradisional

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


A.   Latar Belakang Masalah

Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami peserta didik. Oleh karena itu, setiap tenaga pendidik perlu memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar peserta didik agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi peserta didik.

Sesuai dengan struktur program Kurikulum Merdeka untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa terdapat 11 mata pelajaran yang dipelajari, diantaranya: Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPS, IPA, Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, Seni dan Budaya, Ketrampilan Pilihan, dan PMDS. Untuk mengembangkan karakter anak, salah satunya dengan pembelajaran pendidikan jasmani yang dilaksanakan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit setiap minggu. Pendidikan jasmani sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah yang memiliki peranan penting terhadap perkembangan perilaku peserta didik baik dalam dimensi kognitif, afektif maupun psikomotor. Lutan (2000) menjelaskan bahwa “Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani. Tujuan yang ingin dicapai bersifat menyeluruh, mencakup domain kognitif, afektif, dan psikomotor”. Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang mengaktualisasi potensi-potensi aktivitas manusia berupa sikap, tindakan dan kemampuan gerak menuju pribadi yang seutuhnya. Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah merupakan sebuah investasi jangka panjang dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, walaupun hasil yang diharapkan itu tidak dapat terlihat secara instan. Oleh karena itu pendidikan jasmani harus terus ditingkatkan dan dilakukan dengan sabar dan ikhlas. Hal ini tentu memerlukan suatu tindakan yang mendukung terciptanya pembelajaran yang kondusif. Sebagai bagian dari proses pendidikan, pendidikan jasmani menjadi bagian integral dari pendidikan nasional, yang dilaksanakan secara teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani, yang didasarkan pada kemampuan tumbuh dan berkembang melalui petunjuk kurikulum. Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani melalui aktivitas gerak, aktivitas permainan dan olahraga sebagai sarana pembelajaran guna menjadi alat pencapai tujuan pendidikan nasional. Sejalan dengan pendapat diatas Mayer (dalam Yudiana, 2010) menjelaskan “pendidikan jasmani adalah bagian dari kurikulum sekolah yang di fokuskan kepada pengembangan kebugaran tubuh dan memperkembangkan secara keseluruhan melalui aktivitas fisik.” Pendidikan jasmani tidak hanya mengembangkan potensi dari segi psikomotornya saja melainkan dari segi kognitif, dan afektifnya. Pengalaman yang akan diberikan dari berbagai macam aktifitas olahraga, permainan, maupun aktivitas jasmani lainnya yang dirancang sedemikian rupa sesuai dengan tahapan perkembangan siswa yang mengacu pada kurikulum sehingga akan membuat siswa merasa senang dan dapat belajar dengan antusias. Pendidikan jasmani akan menciptakan atmosfer pendidikan yang tidak dapat diciptakan oleh pembelajaran lain, karena pendidikan jasmani akan membuat siswa gembira dalam belajar melalui gerak. Pengalaman gerak dasar yang diajarkan pendidikan jasmani di sekolah akan menghantarkan siswa menjadi pribadi yang sehat dan memiliki jiwa disiplin serta bertanggungjawab.

Pembelajaran pendidikan jasmani sangat berguna bagi siswa ketika dilakukan dengan strategi pembelajaran yang tepat terutama bagi anak berkebutuhan khusus tunagrahita dimana kemampuan intelegensi mereka dibawah rata-rata. Sedangkan penggunaan strategi pembelajaran yang monoton menyebabkan siswa kurang termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain monotonnya strategi pembelajaran yang diterapakan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan siswa tidak termotivasi dalam melakukan aktivitas pendidikan jasmani. Faktor tersebut antara lain, kurangnya pengetahuan siswa terhadap aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan, hal ini membuat siswa menjadi bingung dalam proses pelaksanaan pembelajaran. Kemudian adanya perbedaan kemampuan motorik pada tiap siswa tunagrahita dan juga kurang mendukungnya sarana dan prasarana yang ada untuk melaksanakan pembelajaran. Beberapa permasalahan seperti yang diuraikan diatas akan berdampak buruk terhadap hasil belajar yang dicapai siswa.

Hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Seperti yang diungkapkan oleh Sudjana (2011) Hasil belajar merupakan suatu kompetensi atau kecakapan yang dapat dicapai oleh siswa setelah melalui kegiatan pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru di suatu sekolah dan kelas tertentu. Bloom (dalam Sudjana, 2013) mengelompokkan macam-macam hasil belajar secara umum menjadi 3 ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor. Hasil belajar yang diperoleh siswa tentang Pendidikan jasmani selama ini masih belum memuaskan. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah siswa kelas VIII C (tunagrahita ringan) yang mengalami ketuntasan belajar hanya sebanyak 55%. Dengan mempertimbangkan penilaian proses, penilaian hasil belajar, dan ketuntasan belajar secara klasikal hanya 55%, maka penulis menyimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas VIII C tentang Pendidikan jasmani masih rendah karena penulis belum menyediakan waktu yang cukup bagi siswa untuk memantapkan apa yang sudah dipelajari, maka peluang untuk terjadi pengingatan masih kurang. Hasil observasi awal ini menunjukan permasalahan yang sama seperti diungkapkan di atas, terkait penggunaan strategi pembelajaran yang monoton. Selain itu, materi pembelajaran yang diberikan merupakan materi yang sering dilaksanakan pada umumnya, seperti materi permainan lari jarak pendek, lompat jauh, bola basket, sepak bola, dan bola voli.

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran pendidikan jasmani di atas, maka perlu dilakukan upaya konkret dan inovatif untuk meningkatkan kualitas proses pendidikan jasmani di sekolah. Untuk meningkatkan hasil belajar pendidikan jasmani maka diberikan materi belajar dengan strategi yang baru, strategi baru tersebut diharapkan mampu menarik perhatian siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan jasmani adalah dengan implementasi pendekatan permainan tradisional. Pemanfaatan dan penggunaan pendekatan permainan tradisional masih merupakan hal yang jarang dilakukan oleh tenaga pendidik di kelas, dikarenakan popularitas permainan tradisional sudah menurun, dan dianggap sudah tertinggal oleh zaman. Padalah sebenarnya permainan tradisional memiliki sifat mudah, murah meriah, masal dan menarik dan lebih memiliki arti bagi perkembangan fisik dan psikis bagi pelakunya bila dibandingkan dengan permainan modern masa kini. Sukirman (2005) menjelaskan bahwa permainan tradisional merupakan unsur-unsur kebudayaan yang tidak dapat dianggap remeh, karena permainan tradisional memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan kejiwaan, sifat, dan kehidupan sosial anak di kemudian hari. Kusmaedi (2010) mengemukakan bahwa permainan tradisional atau olahraga tradisional kedudukannya dalam pembelajaran pendidikan jasmani memiliki kedudukan yang penting dalam rangka melestarikan, memelihara, bahkan mengembangkan hingga sejajar dengan cabang-cabang olahraga lainnya. Permainan tradisional di Indonesia sangatlah beragam, seperti gobag sodor, lari karung, bebentengan, kasti, dan petak umpet. Pendekatan permainan tradisional merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Pendekatan permainan tradisional yang dimaksud yaitu pendekatan yang menempatkan belajar keterampilan teknik namun dilakukan dengan bermain permainan tradisional. Proses pembelajaran melalui implementasi pendekatan permainan tradisional harus mendapatkan bimbingan dan arahan dari guru agar kegiatan yang dilakukan siswa dapat menumbuhkan dan meningkatkan hasil belajar siswa. Berawal dari latar belakang tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui suatu strategi pembelajaran terhadap hasil belajar siswa dengan melakukan penelitian yang berjudul “Implementasi Pendekatan Permainan Tradisional Dalam meningkatkan Hasil Belajar Gerak Dasar Lari Siswa Kelas VIII Tunagrahita Ringan Di SLB Aisyiyah Krian Tahun Pelajaran 2023-2024”.

 

 

B.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis kemukakan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah implementasi pendekatan permainan tradisional dapat meningkatkan hasil belajar gerak dasar lari pada siswa kelas VIII tunagrahita ringan di SLB Aisyiyah Krian?”

C.    Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah “Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran gerak dasar lari melalui implementasi pendekatan permainan tradisional pada siswa kelas VIII tunagrahita ringan di SLB Aisyiyah Krian”.

D.   Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan kontribusi yang berarti bagi semua pihak terutama kepada mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, diantaranya:

1. Manfaat Teoritis Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran pendidikan jasmani dengan implementasi pendekatan permainan tradisional.

2. Manfaat bagi Guru Untuk menambah referensi tentang strategi pembelajaran pendekatan permainan tradisional yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

3. Bagi Siswa Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani.

 

 

 

 

 

 

 

 

A.   Hakekat Permainan Tradisional

1.     Pengertian Permainan

Menurut Hartati, dkk (2012) bermain dan permainan adalah suatu kegiatan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Setiap insan manusia pada dasarnya membutuhkan aktivitas bermain tidak hanya untuk meningkatkan perkembangan fisik, tetapi juga sosial, intelektual dan emosional. Mulai anak-anak, remaja orang dewasa hingga lanjut usia tentu mengenal dengan istilah bermain. Dalam kehidupan sehari-harinya mereka semua tentu membutuhkan situasi bermain.

Hartati, dkk (2012) bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisik yang umumnya tidak bersifat kompetitif. Bermain bukan berarti olahraga dan pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.

Bermain merupakan suatu kegiatan yang sederhana dan menyenangkan. Bermain sebenarnya merupakan dorongan dari dalam diri anak atau disebut juga naluri dan harus tersalurkan dengan baik. Soemitro (1992) menyatakan bahwa bermain dalam kehidupan manusia merupakan latihan-latihan yang dilakukan agar mereka menjadi manusia. Oleh karena itu bermain tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri.

2.     Pengertian Tradisional

Menurut Hartati, dkk (2012) menjelaskan bahwa tradisi adalah sesuatu kebiasaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisional atau tradisi identik dengan sebuah kebiasaan, gaya hidup dan adat istiadat suatu daerah. Unsur yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik secara tertulis maupun lisan, karena tanpa adanya informasi ini tradisi yang ada bisa saja akan punah.

3.     Pengertian Permainan Tradisional

Permainan Tradisional merupakan suatu bentuk permainan yang tidak mempunyai peraturan yang resmi, baik mengenai peraturan permainan, alat yang digunakan dalam permainan, ukuran tempat permainan ataupun durasi permainannya. Hal ini dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat permainan (Hartati, dkk 2012).

 Menurut Hartati, dkk (2012) Permainan tradisional merupakan permainan yang telah dimainkan oleh anak-anak pada suatu daerah tertentu secara tradisi. Yang dimaksud tradisi di sini adalah permainan ini telah diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Permainan yang banyak diminati oleh anak-anak ada bermacan-macam. Ada congklak, petak umpet maupun gobak sodor.

Menurut Hartati (dalam Hartono, dkk 2013) permainan tradisional banyak mengandung nilai nilai positif. Anak banyak melakukan aktifitas gerak dan ketika bermain meraka akan merasa senang dan melakukannya dengan sungguh-sungguh semata-mata untuk memperoleh kesenangan. Dengan permainan tradisional, anak dapat mengaktualisasikan potensi aktifitasnya yang berbentuk gerak, sikap dan perilaku sehingga permainan tradisional di daerah mampu memenuhi kebutuhan gerak. Oleh karena itu, permainan tradisional di daerah merupakan sebagai sumber bahan ajar dari keseluruhan PJOK. Guru PJOK diharapkan mampu untuk memilih jenis permainan tradisional di daerah sebagai salah satu unsur dalam pembelajaran.

Dari pendapat yang telah diuraikan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa permainan tradisional adalah permainan yang dimainkan oleh anak-anak secara turun menurun. Permainan tradisional sudah dikenal dari nenek moyang kita dulu, permainan ini tidak memerlukan biaya, bahkan sangat mudah memainkannya.

Permainan tradisional tidak mempunyai peraturan yang baku tetapi permainan tradisional berkaitan erat dengan pembelajaran PJOK, yaitu psikomotor, kognitif dan afektif. Permainan tradisional akan menyebabkan anak yang bermain merasa senang dengan kesenangannya akan melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Permainan tradisional yang bisa dijadikan untuk kegiatan belajar mengajar PJOK tentunya sangat banyak dan bervariasi tergantung dari mana asal permainan tradisional tersebut. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua permainan tradisional adalah sebagai berikut:

 

a.     Untitled-2

Permainan Benteng-Bentengan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1 Permainan Benteng-Bentengan (Hartati, dkk 2012:58)

Permainan benteng-bentengan adalah permainan yang dimainkan oleh dua kelompok, masing masing terdiri dari 8 orang atau lebih. Masing-masing kelompok memilih suatu tempat sebagai benteng, biasanya sebuah tiang, batu atau pilar sebagai bentengnya. Permainan bentengan ini berasal dari Jombang, permainan benteng-bentengan di Tumpang dikenal dengan permainan bentengan (https://mainantradisionalindonesia.wordpress.com

/2013/10/22/permainan-bentengan-bentengan/).

1)     Cara Bermain

a)   Pemain dibagi sama rata menjadi dua kelompok (A dan B).

b)  Setiap kelompok memiliki benteng yang telah ditentukan.

c)   Setiap kelompok memiliki tugas menjaga dan mempertahankan bentengnya dari serangan kelompok lawan, agar tidak tersentuh oleh kelompok lawan.

d)  Untuk mendapatkan kemenangan setiap kelompok berusaha memegang benteng dari kelompok lawan.

e)   Dalam usaha mendapatkan benteng lawan, ketika seseorang keluar dari bentengnya, maka pemain tersebut bertindak sebagai pemain muda.

f)   Jika lawan mengejarnya, maka pemain lawan yang mengejar tersebut bertindak sebagai pemain tua. Dan apabila ada anggota dari salah satu pemain muda berhasil disentuh oleh salah satu dari anggota pemain tua, maka pemain muda harus menjadi tawanan dari pemain tua tersebut.

g)  Begitu seterusnya, jika saling bergantian mengejar. Intinya pemain yang baru menyentuh benteng (pemain yang terakhir keluar atau lepas dari benteng) adalah pemain tua. Pemain bisa dikatakan menjadi pemain tua kembali jika pemain tersebut menyentuh kembali benteng yang dimilikinya.

h)  Selanjutnya untuk membebaskan teman dari tawanan lawan, maka pemain harus menyentuh teman tawanan kita tadi sehingga kembali pulang ke benteng asal.

 

 

 

 

 

b.     Untitled-1

Permainan Hadang (Go Back To Door)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.2 Permainan Hadang (Hartati, dkk 2012:105)


Permainan Hadang atau permainan gobag sodor ini adalah sebuah permainan kelompok yang terdiri dari dua kelompok, masing masing kelompok terdiri dari 3 orang atau lebih. Inti dari permainan ini adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke garis ahir secara bolak-balik. Permainan gobag sodor yang berasal dari Yogyakarta ini di daerah Tumpang dikenal dengan nama selodoran (id.voi.co.id/voi-pesona-indonesia/5787-gobak-sodor-permainan-tradisional-indonesia).

1)     Cara Bermain

a)                     Permainan dilakukan secara berkelompok.

b)  Setiap kelompok harus ada yang bertugas sebagai penjaga dan penyerang.

c)   Sebelum permainan dimulai maka ketua kelompok atau perwakilannya melakukan suit atau undian untuk menentukan siapa yang menjadi kelompok penjaga dan kelompok penjaga.

d)  Penjaga boleh menyentuh kelompok menyerang akan tetapi kelompok penjaga memiliki daerah jaga yang telah ditentukan sebelumnya.

e)   Untuk penjaga pintu maka dia hanya menjaga daerahnya hanya 2 kotak yang pergerakannya hanya bergeser ke arah kanan dan kiri.

f)   Untuk penjaga yang bertugas sebagai sodor maka dia akan bertugas menjaga daerahnya dan memposisikan diri berada ditengah diantara 2 kotak.

g)  Untuk sodor gerakan lurus ke depan atau ke belakang

h)  Ketika menangkap penyerang, seorang penjaga pintu tidak boleh merebahkan badan.

 

Pengertian Pembelajaran Pendidikan jasmani, Olahraga dan Kesehatan

Menurut Hartono, dkk (2013) PJOK pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktifitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. PJOK memerlukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, lahir dan batin. PJOK adalah suatu bidang kajian yang berkaitan dengan gerak manusia, perkembangan fisik dan psikis. Dengan PJOK, maka anak-anak melakukan aktifitas fisik sekaligus mendapatkan pendidikan, jadi mengembangkan potensi fisik, mengoptimalisasikan gerak dasar dan juga mengembangkan karakter; hormat pada sesama anak, pantang menyerah, jujur, suka menolong, empati terhadap sesama, dan sifat-sifat baik lainnya.

Menurut Hartati, dkk (2012) dalam proses pembelajaran PJOK guru diharapkan mengajar berbagai ketrampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan dan olahraga, internalisasi nilai-nilai (sportifitas, jujur, kerjasama, dan lain-lain) serta pembiasaan pola hidup sehat. Pelaksanaannya bukan melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik, mental, intelektual, emosional dan sosial. Aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapat sentuhan didaktik metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran.

Sesuai dengan standart kompetensi dan kompetensi dasar pada kelas VIII semester genap, bahwa permainan tradisional terdapat pada standar kompetensi poin 6 yaitu mempraktikkan latian dasar kebugaran jasmani dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Dan untuk kompetensi dasar terdapat pada poin 6.2 mempraktikkan aktifitas untuk kelincahan dengan kualitas gerak yang meningkat, serta nilai kerja keras, disiplin, kerjasama, dan kejujuran.

 

 

 

 

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir diatas maka hipotesis tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah “Penggunaan permainan tradisional dapat meningkatkan hasil belajar gerak dasar lari siswa kelas VIII Tunagrahita ringan di SLB Aisyiyah Krian”.

 

C.     Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiono (2013) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik Pengumpulan Data yang akan dilakukan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1.   Observasi

Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan instrument yang berisi sejumlah indicator perilaku yang diamati. Teknik pengumpulan data observasi dilakukan bila, penelitian berkenaan dengan prilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Menurut Herdiansyah (2010) berpendapat bahwa pengamatan atau yang sering dikenal sebagai teknik observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan cara meneliti apa yang terjangkau oleh panca indera. Observasi yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan sikap yang terjadi pada siswa selama proses pembelajaran. Berikut lembar observasi siswa:

Tabel 3.2 Format Observasi Aktivitas Belajar Siswa

Variabel

Aktivitas Belajar

Jumlah

Aspek yang diobservasi

1

2

3

4

5

6

No

Nama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

X

 

%

 

Keterangan:

1. Adanya hasrat dan keinginan berhasil (Siswa mau mencoba tugas gerak beberpa kali hingga berhasil)

2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar (Siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru walau diraa sulit)

3. Adanya harapan dan cita-cita masa depan (Siswa mau bertanya bila merasa kurang mengerti)

4. Adanya penghargaan dalam belajar (Siswa mendapatkan pujian ketika berhasil melakukan perintah guru)

5. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar (Kegiatan belajar yang menarik dan menyenangkan)

6. Adanya lingkungan belajar yang kondusif  (Siswa memperhatikan mareri yang diberikan oleh guru)

Lembar observasi yang digunakan yaitu lembar observasi aktivitas siswa. Tugas penilai hanya memberi nilai (rating scale) dalam kolom rentang nilai. Kriteria penilaian yang digunakan seperti menurut sugiyono (2013) bahwa: “skala nilai dibawah menggunakan kategori baik, sedang, dan kurang atau dengan angka 4,3,2,1.”

2.     Tes

Teknik tes atau sering juga disebut sistem testing merupakan usaha mengetahui pemahaman siswa dengan menggunakan alat-alat yang bersifat mengukur atau mentes. Tes sebagai suatu prosedur yang sistematis untuk mengukur hasil pembelajaran atau kemajuan belajar siswa. Menurut Suryabrata (2007) tes adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dijalankan, yang mendasarkan testee menjawab pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah-perintah itu, meyelidiki mengambil kesimpulan dengan cara membandingkan dengan standar atau testee lainnya. Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar. Bentuk tes yang digunakan adalah tes praktek.

 

Teknik Analisis Data

Analisis data menurut Nasution (dalam Sugiyono, 2017) menyatakan bahwa analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah. Sukidin dkk., (2002) menyatakan bahwa analisis data merupakan usaha memilih, memilah, membuang, dan menggolongkan data untuk menjawab dua permasalan pokok, yaitu tema apa yang dapat ditemukan pada data-data ini dan seberapa jauh data-data ini dapat menyokong tema tersebut. Penentuan model analisis yang dipilih harus benar-benar sesuai dengan jenis data yang diperoleh. Data yang didapatkan adalah data kuantitatif, untuk itu analisis data yang dilakukan adalah secara deskriptif (persentase, mean, frekwensi, dll.).

1.        Analisis Data Observasi

Tahapan analisis data untuk mengolah skor menjadi nilai adalah sebagai berikut:

1)        Menyusun tabel frekwensi untuk tiap – tiap indikator,

2)        Menghitung mean dengan rumus

M   =  mean / nilai rata-rata                     x = nilai

F     =  frekwensi                                      n = jumlah siswa

 

3)        Menafsirkan hasil hitung untuk menentukan tingkat akitvitas siswa

Tabel 3.3 Kriteria Aktivitas Siswa

Aktivitas Siswa

Predikat

86 % - 100 %

Sangat Baik

76 % - 85 %

Baik

60 % - 75 %

Cukup

55 % - 59 %

Kurang

0 % - 54 %

Kurang Sekali

 

 

 

2.        Analisis Data Tes

Data yang dianalisis adalah data berupa hasil tes evaluasi belajar siswa yang diperoleh selama beberapa siklus. Analisis data dibedakan menjadi dua yaitu ketuntasan belajar individu dan ketuntasan belajar klasikal.

a.         Ketuntasan Belajar Individu

Analisis data yang berkaitan dengan hasil belajar siswa, evaluasi pembelajaran menggunakan soal isian. Setiap jawaban benar mendapatkan skor 1 dan jawaban salah mendapatkan skor 0.

Tabel 3.4 Skor Tes Tulis

Romawi

Bentuk

Soal

Jumlah Soal

Skor

I

Isian

10

Nilai Setiap Soal 10.

Jumlah = 100

 

Berikut ini adalah rumus ketuntasan belajar individu :

Keterangan:

KI : Ketuntasan Individu

SS : Skor Hasil Belajar Siswa

SMI : Skor Maksimal Ideal

b.                       Ketuntasan Belajar Klasikal

Tingkat ketuntasan belajar siswa secara klasikal (Rezeki, 2009)

 

Keterangan :

KK : Presentase Ketuntasan Hasil Belajar

JST : Jumlah Siswa Yang Tuntas

JS : Jumlah Seluruh Siswa

 

3.       Indikator Keberhasilan

Data awal menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dalam bidang ini adalah hanya 55% seluruh siswa yang menguasai materi ini. Data ini diperoleh dari analisis nilai ulangan harian pada materi yang sama pada tahun sebelumnya. Dalam penulisan / penelitian ini indikator keberhasilan diukur dengan melihat nilai keberhasilan siswa, dengan menggunakan ketuntasan belajar klasikal yaitu 70%.

Hasil Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini menggunakan permainan tradisional haling rintang dan benteng-bentengan. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan sebanyak dua siklus, tiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar gerak dasar lari siswa dengan menggunakan permainan tradisional.

1.        Siklus I

a.        Perencanaan Penelitian

Kegiatan pada siklus I dirancang sebanyak 2 pertemuan, dalam hal ini akan disebut dengan Pertemuan I dan pertemuan II. Kegiatan pada perencanaan ini adalah menyusun RPP, lembar penilaian proses, lembar penilaian praktek, dan lembar observasi untuk setiap pertemuan. Pertemuan I dan II merupakan kegiatan yang utuh atau berkesinambungan dalam siklus I.

Pertemuan I dan II dirancang dengan indikator pencapaian kompetensi, sebagai berikut: (a) Mendiskripsikan gerak dasar lari dalam permainan tradisional permainan hadang/gobak sodor, (b) Mempraktekkan gerak dasar lari dalam permainan gobak sodor. Pertemuan I pada siklus I dirancang untuk melakukan pembelajaran berupa pengamatan, tanya jawab, dan praktek gerak dasar lari, Sesuai dengan pembelajaran yang dirancang, maka guru mempersiapkan gambar-gambar dan lembar penilaian proses untuk merekam aktifitas dan keberanian siswa.

Pertemuan II dirancang untuk melakukan penguatan, melakukan permainan hadang/gobak sodor, dan melaksanakan tes praktek. Penguatan dilakukan dengan tanya jawab tentang hasil pembelajaran pada pertemuan I. Disini guru merekam aktifitas siswa dalam mempraktekkan permainan hadang/gobak sodor, kemudian menyusun sebuah tes untuk mengetahui ketercapaian kompetensi sesuai indikator yang telah disusun dengan tes praktek yang terdiri dari 10 soal praktek

 

2.        Siklus II

a.        Perencanaan Penelitian

Kegiatan pada siklus II dirancang sebanyak 2 pertemuan, dalam hal ini akan disebut dengan pertemuan III dan pertemuan IV. Pada tahap ini guru menyusun RPP, lembar penilaian proses, lembar penilaian praktek, dan lembar observasi untuk setiap pertemuan. Pertemuan III dan IV merupakan kegiatan yang utuh atau berkesinambungan dalam Siklus II. Kegagalan dan hambatan pada siklus pertama akan diperbaiki untuk menyempurnakan hasil belajar pada siklus kedua. Indikator keberhasilan tiap siklus ditentukan oleh peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran gerak dasar lari.

 Pertemuan III pada siklus II dirancang untuk melakukan pembelajaran berupa pengamatan, tanya jawab, dan praktek gerak dasar lari, Sesuai dengan pembelajaran yang dirancang, maka guru mempersiapkan gambar-gambar dan lembar penilaian proses untuk merekam aktifitas dan keberanian siswa.

Pertemuan IV dirancang untuk melakukan kegiatan permainan benteng-bentengan, dan melaksanakan tes praktek. Penguatan dilakukan dengan tanya jawab tentang hasil pembelajaran pada pertemuan III. Disini guru merekam aktifitas siswa dalam mempraktekkan permainan banteng-bentengan, kemudian menyusun sebuah tes untuk mengetahui ketercapaian kompetensi sesuai indikator yang telah disusun dengan tes praktek yang terdiri dari 10 soal praktek.

 

A.     Pembahasan

Dari hasil tes yang telah dilaksanakan pada siklus I dan siklus II terjadi peningkatan hasil belajar siswa mengenai gerak dasar lari melalui permainan tradisional . Peningkatan tersebut sebesar 7,5% pada siklus I dari kondisi awal yaitu 55% dimana hasil belajar pada siklus I sebesar 62,5%. Pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 37,5% dibanding siklus I dimana hasil belajar siklus II sebesar 100%.

Tabel 4.5 Perbandingan Hasil Belajar Tiap Siklus

Keterangan

Siklus I

Siklus II

Nilai Tertinggi

80

100

Nilai Terendah

50

70

Rata-rata

66

81

Jumlah Siswa Tuntas

5

8

Jumlah siswa tidak Tuntas

3

0

Ketuntasan Belajar

62,5%

100%

 

 

Gambar 4.6 Perbandingan Hasil Belajar Tiap Siklus

 

Dari hasil penelitian dapat dirumuskan kelemahan penelitian ini diantaranya penelitian ini membutuhkan pengelolaan kegiatan dilapangan yang perlu dirancang dengan baik dan pemantauan yang terus menerus agar tidak terjadi banyak hambatan dalam kegiatan, misalnya siswa terlalu asyik melakukan permainan sehingga melupakan tujuan utama untuk belajar atau siswa terlalu emosional sehingga permainan tidak sportif. Disamping terdapat kelemahan, pada penelitian ini juga  terdapat kelebihan yaitu pembelajaran dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan dan tidak membosankan melalui kegiatan permainan tradisional. Siswa termotivasi dan tidak bosan belajar dilapangan, siswa menjadi bersemangat melakukan permainan, dengan adanya semangat dan motivasi maka tujuan pembelajaran dapat tercapai.

 

Lokasi Sekolah

Alamat

Jl. R. Subakir Semaji RT 12 RW 4 Kabupaten Sidoarjo

Email

aisyiyahkrianslb@gmail.com

Nomor Telepon

0318989482

Managed By ABK Istimewa 2022.